1/13/2013 03:30:00 PM
0
A: Pak Ony, laptop saya hilang di Luar Bandara Incheon.
B: Tidak apa-apa Ibu, sekarang saya akan lapor ke bagian lost and found. Ibu tidak perlu khawatir besok pasti akan kembali.
A : Pak Ony, saya ingin ke bandara sekarang, mungkin dengan kehadiran saya orang akan lebih percaya.
B : Tidak perlu, orang Korea sangat jujur dan mereka tidak akan mengambil barang yang bukan milik orang lain.
A : Sehari sesudahnya laptop kembali utuh seperti sedia kala.
Ketika mendengar orang panik dengan keadaan tersebut biasanya saya bersikap tenang dan akan mengatakan bahwa barang akan kembali. Keyakinan saya sebenarnya berdasarkan beberapa kejadian sebelumnya. Walaupun mungkin tidak semua barang akan kembali jika hilang tetapi jika barang tersebut ada namanya kemungkinan besar akan kembali. Pertanyaannya apakah ini karena ada CCTV atau karena sikap orang Korea yang jujur?
Ketika saya melaporkan hal itu terhadap pihak bandara, saya menawarkan untuk melihatnya lewat CCTV. Mereka mengatakan bahwa prosedur akan sedikit sulit karena pengecekan lewat CCTV biasanya hanya untuk teroris. Mereka mengatakan akan memeriksa dan dalam waktu 1 x 24 jam akan menelepon saya atau pihak kampus. Keesokan harinya mereka mengatakan bahwa barang sudah ditemukan dan mereka meminta kami untuk mengambil barang tersebut. Luar biasa, sebuah hal yang mungkin sudah jarang kita temui sekarang.
Kejadian ini kemudian saya posting di facebook dengan menanyakan sebuah pertanyaan : Di negeri ini yang banyak orangnya tidak beragama, saya belajar banyak mengenai ARTI KEJUJURAN … apakah nilai ini masih ada atau semakin jauh di negara INDONESIA yang mayoritas beragama? Sebuah renungan bagi saya dan mungkin yang baca status ini. Daejeon, 10 Januari 2013
Beragam komentar muncul dan mereka kebanyakan bersikap positip dalam artian mereka berharap hal ini akan terjadi di Indonesia. Salah satu komentar mengatakan bahwa kita tidak perlu melihat negara lain karena di Indonesia masih banyak orang yang jujur misalnya kasus penemuan uang 100 juta yang dikembalikan oleh seorang office boy. Terlepas banyak atau tidaknya orang jujur di Indonesia, kita tidak bisa menyangkal bahwa saat ini nilai kejujuran hampir sangat jarang diperlihatkan oleh orang Indonesia khususnya mereka yang berada di tingkat pemerintahan. Para elit ini yang seharusnya menjadi contoh bagi kebanyakan orang  seakan lupa diri dan sudah mengabaikan nilai ini.
Padahal mereka bersumpah untuk selalu menerapkan nilai ini dalam pekerjaannya. Terlebih lagi mereka juga adalah bagian masyarakat Indonesia yang terkenal luas sebagai masyarakat yang punya sopan santun dan taat beragama. Kadang-kadang saya “iri” dengan orang Korea, karena banyak dari mereka yang tidak beragama tetapi dalam menerapkan nilai-nilai agama mereka lebih dari kita bangsa Indonesia. Contoh di atas hanya satu dari beberapa kejadian yang pernah saya alami selama tinggal di negeri gingseng ini. Karena ketidakjujuran inilah banyak orang mengatakan bahwa Indonesia sangat lambat untuk maju dibandingkan dengan negara lain.
Dalam beberapa kesempatan saya sempat menanyakan kepada kolega saya, orang Korea  mengenai arti kejujuran dalam kehidupan mereka. Pada umumnya mereka tidak tahu bagaimana mengukur nilai kejujuran tetapi ada semacam budaya malu dalam diri mereka jika mereka tidak jujur. Hal ini tidak hanya berakibat terhadap diri mereka tetapi juga keluarganya. Mungkin kita masih ingat ketika beberapa tahun yang lalu mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo-Hyun bunuh diri karena diduga depresi akibat tuduhan korupsi atas diri dan keluarganya. Mereka mungkin tidak banyak berbicara mengenai hal ini tetapi mereka mempraktekkan dalam kehidupan mereka. Hal ini lebih penting daripada sebuah debat panjang bagaimana kita menilai sebuah kejujuran.
Ketika saya sedang menulis artikel ini, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan berita mengenai jatuhnya vonis kepada Angelina Sondakh selama 4.5 tahun penjara dan denda Rp. 250 juta karena diduga terlibat kasus dugaan korupsi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sangatlah wajar jika masyarakat marah, kecewa, dan mungkin menghujat para hakim dan semua orang yang terlibat dalam kasus ini. Seseorang yang sudah tidak berbuat jujur dan yang paling penting adalah merugikan rakyat dihukum sangat ringan. Luar biasa, sebuah hal yang sangat mudah ditemui di negeri Indonesia.
Saya sangat menaruh apresiasi yang sangat tinggi kepada siapa saja yang rajin dan terlibat langsung dalam beberapa kegiatan untuk mengkampanyekan nilai kejujuran yang sudah mulai terkikis di Indonesia. Kantin kejujuran yang didirikan di sekolah-sekolah supaya siswa dapat belajar tentang kejujuran adalah langkah nyata dan wajib didukung oleh semua pihak. Mereka semua adalah generasi muda yang akan memimpin negara Indonesia di kemudian hari. Kita semua ingin bahwa Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang punya integritas dan mempunyai sifat jujur.Di Korea Selatan sendiri selain budaya malu, beberapa sekolah punya Lost and Found korner yang berfungsi sebagai tempat yang secara tidak langsung melatih nilai kejujuran. Terkadang mereka tidak menemukan barang yang hilang secara langsung tetapi dapat menemukanya sesudah akhir semester ketika pihak sekolah mengumumkan barang apa saja yang ada di korner tersebut.
Akhirnya semangat untuk terus menerapkan nilai-nilai kejujuran itu sangat penting bagi kita semua. Kalau saat ini para tokoh atau pengambil keputusan di Indonesia belum bisa mencontohkan hal ini, lebih baik kita mulai dari diri sendiri. Tidak perlu CCTV atau alat-alat lain untuk menilai apakah kita jujur atau tidak. Tindakan nyata kita pasti akan selalu melekat di hati orang yang pernah berhubungan dengan kita selain tentunya bahwa semua agama mengajarkan bahwa dengan kejujuran biasanya hidup ini akan lebih indah dan bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, dan orang lain.
Daejeon, 12 Januari 2013

0 comments:

Post a Comment